
Malang adalah sebuah kota di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia memiliki sejarah sejak zaman Kerajaan Singhasari. Ini adalah kota terpadat kedua di provinsi ini, dengan jumlah penduduk 887.443 menurut estimasi 2016. Wilayah metro-nya adalah rumah bagi 3.663.691 penduduk yang tersebar di dua kota dan 22 kabupaten. Malang adalah kota terbesar ketiga berdasarkan ekonomi di Jawa Timur, setelah Surabaya dan Kediri, dengan PDB 2016 yang diperkirakan sebesar Rp44,30 triliun.
Kota ini terkenal dengan iklimnya yang ringan. Selama masa penjajahan Belanda, itu adalah tujuan populer bagi penduduk Eropa. Sampai sekarang, Malang masih memegang posisinya sebagai tujuan populer bagi wisatawan internasional. Malang menyimpan berbagai peninggalan sejarah. Kota ini menyimpan peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan sampai masa Belanda. Peninggalan Belanda pada umumnya berupa bangunan-bangunan kuno seperti gereja Kayutangan dan katedral Ijen yang memiliki arsitektur gotik. Malang juga mengadakan berbagai acara untuk melestarikan warisan budayanya, salah satunya adalah Malang Tempo Doeloe Festival. Malang juga memiliki banyak peninggalan sejarah yang telah menjadi landmark seperti Tugu Malang (Alun-alun Bundar). Malang juga terkenal karena dicap sebagai kota pendidikan. Kota ini memiliki salah satu universitas terbaik di Indonesia seperti Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang.
Sejarah
Daerah Malang pada zaman Pleistosen masih berupa cekungan yang dalam diapit oleh aktivitas gunung berapi dari pegunungan seperti Pegunungan Karst di Selatan, Kawi, Butak, dan Kelud di Barat, kompleks Anjasmoro, dan Arjuno-Welirang di Timur Laut dan Utara, dan Kompleks Pegunungan Tengger di Timur. Cekungan belum dihuni oleh manusia karena kondisinya masih berupa lava dan aliran lava panas dari pegunungan di sekitarnya. Menjelang musim hujan, cekungan Malang dipenuhi air yang mengalir melalui lereng gunung yang mengarah ke sejumlah sungai dan membentuk rawa kuno. Rawa-rawa menyebar untuk membuat danau kuno.Kerajaan Hindu dan Islam
Kerajaan KanjuruhanSejarah Kabupaten Malang dapat diungkapkan melalui prasasti Dinoyo pada tahun 760 sebagai dokumen resmi utama untuk mendukung kelahiran Malang sebelum prasasti baru ditemukan pada tahun 1986, yang belum diuraikan. Menurut prasasti, disimpulkan bahwa abad ke-8 adalah awal dari keberadaan pemerintah Kabupaten Malang karena kelahiran Raja Gajayana memerintah kerajaan Hindu India-nya di Malang. Dari prasasti Dinoyo, tercatat bahwa prasasti tersebut menggunakan "Candra Sengkala" atau Kalender Kronograf, dan menyatakan bahwa tanggal lahir Kabupaten Malang adalah pada Jum'at Legi (Jumat manis) 28 November 760.
Kerajaan Medang
Kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan tidak akan bertahan lama. Kerajaan itu akhirnya di bawah kekuasaan Medang i Bhumi Mataram (Kerajaan Mataram Kuno atau Medang) selama kepemimpinan Raja Dyah Balitung (899-911 M). Dalam Prasasti Balingawan (813 Saka / 891 M), disebutkan Pu Huntu sebagai Rakryan Kanuruhan (penguasa karakter Kanuruhan) pada masa pemerintahan Raja Mpu Daksa (911-919 M). Wilayah yang dulunya merupakan kerajaan otonom telah turun satu tingkat ke watak (wilayah) yang setingkat dengan wilayah adipati atau distrik (satu tingkat di bawah otoritas raja). Watak Kanuruhan yang meliputi pusat kota Malang saat ini adalah entitas yang berdiri berdampingan dengan Watak Hujung (di Ngujung, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang) dan Watak Tulihan (di Tegaron, Lesanpuro, Kedungkandang, Kabupaten Malang) yang masing-masing mengawasi beberapa wanua (tingkat desa).
Kerajaan Kahuripan, Janggala, dan Kediri
Tidak ada catatan yang menjelaskan secara rinci status dan peran daerah di sekitar Malang selama kepemimpinan Raja Airlangga selain fakta bahwa Malang memasuki wilayah Kerajaan Kahuripan. Karena wilayah Malang bukan lagi pusat pemerintahan Kerajaan yang berpusat di sekitar Gunung Penanggungan dan Sidoarjo dengan ibukotanya Kahuripan. Bahkan ketika Raja Airlangga membagi Kahuripan menjadi Panjalu yang berpusat di Daha (Kadiri) dan Jenggala yang tetap berpusat di Kahuripan, wilayah Malang dimasukkan sebagai perangkat kekuasaan kedua kerajaan. Namun, dapat dipastikan bahwa wilayah Malang memasuki wilayah Jenggala pada saat pembagian ini. Pembagian Kahuripan menunjukkan bahwa Gunung Kawi digunakan sebagai batas dari dua kerajaan baru dengan sisi timur diperoleh oleh Jenggala.
Kekaisaran Singhasari
Runtuhnya Panjalu / Kadiri dan kelahiran Kerajaan Tumapel di Malang berasal dari kelas Brahmana dari Panjalu yang mencoba menyelamatkan diri dari penganiayaan politik oleh Raja Kertajaya. Mereka melarikan diri ke arah timur dan bergabung dengan kekuatan politik di Tumapel, yang dipimpin oleh Ken Angrok atau Ken Arok. Dia kemudian memberontak terhadap Akuwu Tunggul Ametung dan mengambil alih Tumapel. Kemenangan Ken Arok pada saat yang sama merupakan pernyataan perang untuk memisahkan dirinya dari Panjalu / Kadiri. Perebutan kekuasaan antara Kertajaya dan Ken Arok menuju wilayah Malang dan sekitarnya menyebabkan Pertempuran Ganter di Ngantang (sekarang menjadi kecamatan di Kabupaten Malang) (1144 Saka / 1222 M) yang dimenangkan oleh Ken Arok. Dia juga menahbiskan dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Tumapel dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Ibukota itu sendiri tetap di Tumapel tetapi mengubah namanya menjadi Kutaraja.
Kekaisaran Majapahit
Malang bukanlah pusat perebutan kekuasaan antara Jayakatwang, Raden Wijaya, dan tentara Kublai Khan dari Mongol. Setelah memenangkan suksesi kekuasaan, Raden Wijaya, yang memegang gelar Kertarajasa Jayawardhana memindahkan pusat kekuasaan ke daerah yang telah ia bangun di Hutan Tarik (sekarang di sekitar Mojokerto dan Kabupaten Tarik, Sidoarjo). Namun, wilayah Malang menyaksikan sejarah dari nasib Jayakatwang yang diasingkan ke mata air lain di Polaman (sekarang Desa Kalirejo, Kabupaten Lawang, Kabupaten Malang). Menurut Pararaton dan Kidung Harsyawijaya, di sinilah Jayakatwang terinspirasi untuk menulis Wukir Polaman, karya sastra terakhirnya sebelum dieksekusi oleh Raden Wijaya.
Kerajaan Sengguruh
Sengguruh adalah kerajaan Hindu terakhir dan sisa warisan simpatisan Majapahit di Malang. Ia adalah kerajaan yang merdeka setelah jatuhnya Majapahit. Hermanus Johannes de Graff berpendapat bahwa putra Brawijaya VII, Raden Pramana melarikan diri ke daerah pegunungan terpencil di selatan karena pendudukan Daha (Kadiri) (ibukota Majapahit sejak Girindrawardhana - Brawijaya VI) oleh Sultan Trenggana dari Demak pada 1527. Pemimpin wilayah ini adalah Arya Terung dengan gelar Adipati Sengguruh. Nama Sengguruh dikatakan terkait dengan keberadaan pusat pendidikan dan tempat tinggal para ksatria atau spanduk (biasa disebut Kepanjian atau daerah Kepanjen). Spanduk yang ingin belajar di Kepanjen dikatakan mengatakan "Ayo pergi ke Guru" yang merujuk ke tempat di mana mereka belajar. Kata-kata ini secara bertahap menjadi Sengguruh.
Kerajaan Sengguruh
Sengguruh adalah kerajaan Hindu terakhir dan sisa warisan simpatisan Majapahit di Malang. Ia adalah kerajaan yang merdeka setelah jatuhnya Majapahit. Hermanus Johannes de Graff berpendapat bahwa putra Brawijaya VII, Raden Pramana melarikan diri ke daerah pegunungan terpencil di selatan karena pendudukan Daha (Kadiri) (ibukota Majapahit sejak Girindrawardhana - Brawijaya VI) oleh Sultan Trenggana dari Demak pada 1527. Pemimpin wilayah ini adalah Arya Terung dengan gelar Adipati Sengguruh. Nama Sengguruh dikatakan terkait dengan keberadaan pusat pendidikan dan tempat tinggal para ksatria atau spanduk (biasa disebut Kepanjian atau daerah Kepanjen). Spanduk yang ingin belajar di Kepanjen dikatakan mengatakan "Ayo pergi ke Guru" yang merujuk ke tempat di mana mereka belajar. Kata-kata ini secara bertahap menjadi Sengguruh.
No comments:
Post a Comment